Tujuan tidak muncul begitu saja, tapi oleh dorongan keadaan yg mengarahkan kita untuk menuju ke suatu keadaan lain yg kita yakini akan lebih baik. Dalam proses mengarahkan menuju keadaan yg lebih baik itu, terdapat banyak alternatif tujuan. Oleh karenanya, sebelum tujuan ditetapkan, memahami keadaan secara sungguh sungguh dan menyeluruh adalah langkah awal yg paling penting. Penentuan tujuan yg salah, justru akan membuat seluruh pekerjaan sia-sia, karena walaupun tujuan itu tercapai, tapi akhirnya belakangan kita sadari bahwa ternyata bukan itu keadaan akhir yg sesungguhnya kita inginkan.
Sama halnya dengan seseorang yg berbakat pada suatu bidang, namun karena salah memilih jalur, lalu hidup didunia yg berbeda sama sekali. Maka kualitas diri yg terbentuk tidak akan maksimal. Maka menentukan tujuan yg tepat adalah hal terpenting sebelum merencanaan upaya panjang pencapaian tujuan tsb.
Sudah terlalu banyak teori untuk mencapai tujuan, namun bagaimana menentukan tujuan yg benar, adalah sesuatu yg lebih penting perannya. Pemilihan tujuan yg benar dan tepat adalah apabila terjadi sinergi paling maksimal antara faktor internal (spirit), dan ekternal. Semua unsur unsur yg terlibat harus masuk perhitungan.
Suatu Tujuan adalah berbanding lurus terhadap fungsi waktu/umur dan faktor external. Oleh karenanya, beda waktu/umur akan memiliki tujuan berbeda2 pula. Apalagi adanya faktor external yg turut mempengaruhi seperti, komunitas dan lingkungan tempat tumbuh.
Didalam Bisnis yg normal, pemilihan tujuan meliputi fungsi waktu jangka pendek, menengah dan panjang. Lalu dikorelasikan dengan lingkungan terbatas, menengah dan yg lebih luas lagi. Kesemuannya memerlukan pertimbangan yg menyeluruh sesuai dengan tingkatannya masing masing. Dan setiap tingkatan selalu diawali dengan upaya imajinatif yg memiliki korelasi yg kuat pada realita bisnis yg sedang terjadi, sehingga tujuan yg ditentukan, tetap membumi (realistis).
Dalam kenyataannya, tidak semua pemilik bisnis berorientasi sepenuhnya profit. Beberapa hanya untuk pencucian uang, status, atau kamuflase atas aktifitas utama lain yg tersembunyi. Termasuk juga mereka yg ingin bergabung di kelompok aktifitas sosial, tidak semuanya bertujuan utama untuk membantu mereka yg membutuhkan. Yg masuk di dunia politik, tidak semua ingin memperjuangkan ideologi yg di yakininya benar. Banyak (bahkan terlalu banyak) dari mereka yg memiliki tujuan2 pribadi lain. Inilah hal yg paling berpotensi memunculkan konflik di semua perkumpulan, yaitu perbedaan tujuan/kepentingan
Oleh : zainal arifin
Zainal Arifin
Saturday, July 9, 2011
Sunday, June 19, 2011
IMAJINASI
Ia adalah upaya penelusuran lorong-lorong gelap tak berujung bagi pengembaraan spirit kehidupan dalam meraba dan mencari kebenaran. Ia juga gelap gulita, sehingga apapun tak nampak tanpa adanya pelita jiwa.
Seperti halnya asap dupa di altar persembahan, ia akan membumbung tinggi hingga jarak terjauh, menebar ke seluruh penjuru mata angin dan aromanya mampu menembus batas antara alam realita dan keabadian.
Karena kehidupan sesungguhnya adalah alam ide-ide yg mencari bentuk akhirnya sendiri, maka imajinasi adalah pemberi arah. Oleh karenanya, perjalanan di alam imajinasi adalah perjalanan hidup yg sesungguhnya, yg menawarkan sensasi keabadian.
Jangkauannya yg begitu luas, seluas alam semesta yg tak berbatas, telah memberi kenikmatan tersendiri bagi jiwa jiwa yg sedang berkelana menembus batas cakrawala realita kehidupan.
Imajinasi juga merupakan jiwa bagi kehidupan di alam realita, yg mengarahkan bentuk peradaban kehidupan, dan menyemarakkannya dengan pertentangan maupun perdamaian.
Bayangkanlah kita berada didalam gua yg gelap gulita, dan tak satupun realita nampak didepan kita kecuali keadaan yg gelap gulita itu sendiri, maka hal berikutnya yg akan menjadi realita adalah apapun yg masuk dipikiran kita dan kita sepakati sebagai realita. Dan imajinasi lah yg akan membimbing dan memunculkan satu per satu realita itu.
Oleh karenanya, didalam kegelapan tanpa obor, semua yg kita lakukan adalah didasarkan pada naluri bertahan dan upaya imajinatif yg diyakini sebuah langkah kebenaran. Dan pelan tapi pasti, imajinasi yg mendalam akan memperoleh pengakuan dari realita dan terus berkembang menampakan wujud akhirnya.
Karena demikian mendalamnya makna imajinasi, maka ia adalah satu satunya cara bagi jiwa untuk bisa berinteraksi dengan alam semesta, membuka tabir misteri dan menarik makna yg tersirat didalamnya . Tanpanya, upaya pencarian hanya akan bertemu realita semata, bukan substansi kehidupan.
Oleh : Zainal Arifin
Seperti halnya asap dupa di altar persembahan, ia akan membumbung tinggi hingga jarak terjauh, menebar ke seluruh penjuru mata angin dan aromanya mampu menembus batas antara alam realita dan keabadian.
Karena kehidupan sesungguhnya adalah alam ide-ide yg mencari bentuk akhirnya sendiri, maka imajinasi adalah pemberi arah. Oleh karenanya, perjalanan di alam imajinasi adalah perjalanan hidup yg sesungguhnya, yg menawarkan sensasi keabadian.
Jangkauannya yg begitu luas, seluas alam semesta yg tak berbatas, telah memberi kenikmatan tersendiri bagi jiwa jiwa yg sedang berkelana menembus batas cakrawala realita kehidupan.
Imajinasi juga merupakan jiwa bagi kehidupan di alam realita, yg mengarahkan bentuk peradaban kehidupan, dan menyemarakkannya dengan pertentangan maupun perdamaian.
Bayangkanlah kita berada didalam gua yg gelap gulita, dan tak satupun realita nampak didepan kita kecuali keadaan yg gelap gulita itu sendiri, maka hal berikutnya yg akan menjadi realita adalah apapun yg masuk dipikiran kita dan kita sepakati sebagai realita. Dan imajinasi lah yg akan membimbing dan memunculkan satu per satu realita itu.
Oleh karenanya, didalam kegelapan tanpa obor, semua yg kita lakukan adalah didasarkan pada naluri bertahan dan upaya imajinatif yg diyakini sebuah langkah kebenaran. Dan pelan tapi pasti, imajinasi yg mendalam akan memperoleh pengakuan dari realita dan terus berkembang menampakan wujud akhirnya.
Karena demikian mendalamnya makna imajinasi, maka ia adalah satu satunya cara bagi jiwa untuk bisa berinteraksi dengan alam semesta, membuka tabir misteri dan menarik makna yg tersirat didalamnya . Tanpanya, upaya pencarian hanya akan bertemu realita semata, bukan substansi kehidupan.
Oleh : Zainal Arifin
Tuesday, June 14, 2011
manajemen
Terlalu banyaknya teori ilmu manajemen saat ini, terkadang justru membingungkanku, yang sesungguhnya ada benang merah diantaranya. Oleh karenanya, aku berkeyakinan, sebetulnya hanya cukup 4 langkah untuk semua, yg perlu dilakukan yg akan menghasilkan solusi terbaik.
Yg Pertama : upaya perenungan yg mendalam terhadap keseluruhan masalah untuk memperoleh gambaran umum akan kompleksitasnya dengan cara membuka pikiran kita seluas luasnya akan segala kemungkinan yg terjadi.
Yg ke Dua : Menentukan tujuan utama yg ingin dicapai dan memahami karakter setiap bagian persoalan dengan setepat tepatnya, lalu mengelompokkannya berdasarkan pengaruhnya terhadap tujuan utama dan membuat korelasi mulai yg terdekat dengan tujuan utama, dan begitu seterusnya hingga diperoleh langkah awal untuk memulainya.
Yg ke Tiga : Menyusun strategi pencapaiannya dengan cara membuka kemungkinan-2 sebanyak mungkin, mulai tahap awal hingga akhir, dan selanjutnya memilih strategi yg paling tepat untuk dilakukan.
Yg ke Empat : Menyelesaikan satu per satu setiap bagian persoalan (pada strategi yg sudah dipilih) secara sangat hati-hati, dan mengawasi pelaksanaanya secara ketat hingga yakin segala sesuatunya tidak ada yg tertinggal.
Oleh : zainal arifin
Yg Pertama : upaya perenungan yg mendalam terhadap keseluruhan masalah untuk memperoleh gambaran umum akan kompleksitasnya dengan cara membuka pikiran kita seluas luasnya akan segala kemungkinan yg terjadi.
Yg ke Dua : Menentukan tujuan utama yg ingin dicapai dan memahami karakter setiap bagian persoalan dengan setepat tepatnya, lalu mengelompokkannya berdasarkan pengaruhnya terhadap tujuan utama dan membuat korelasi mulai yg terdekat dengan tujuan utama, dan begitu seterusnya hingga diperoleh langkah awal untuk memulainya.
Yg ke Tiga : Menyusun strategi pencapaiannya dengan cara membuka kemungkinan-2 sebanyak mungkin, mulai tahap awal hingga akhir, dan selanjutnya memilih strategi yg paling tepat untuk dilakukan.
Yg ke Empat : Menyelesaikan satu per satu setiap bagian persoalan (pada strategi yg sudah dipilih) secara sangat hati-hati, dan mengawasi pelaksanaanya secara ketat hingga yakin segala sesuatunya tidak ada yg tertinggal.
Oleh : zainal arifin
Saturday, June 4, 2011
ANAK ANAK MU
- ANAK-ANAK MU -
Anak-anak mu itu, sesungguhnya adalah tetesan air hujan dari awan keabadian, yg jatuh ke puncak bukit realita, sebagai titik awal perjalanan panjangnya, dalam membawa pesan-pesan kehidupan.
Kalian para orang tua adalah laksana tumpukan tanah pegunungan yg menerima tetesan air hujan itu, untuk memberi jalan hingga kedalaman yg mereka inginkan, hingga mereka menemukan anak sungai kehidupan yg akan mereka lalui sendiri.
Keinginan-2 kalian untuk membelokkan atau bahkan menghentikan perjalanan mereka, sama halnya dengan upaya angin untuk memindahkan awan ketempat lain. Hembusan yg salah , hanya akan menyebabkan badai yang mampu menghancurkan segalanya, dan hembusan lainnya, hanya akan memindahkannya ketempat lain, namun tidak akan pernah mampu menahan jatuhnya tetesan hujan itu.
Didalam tumpukan tanah pegunungan, tetesan itu akan meresap dan sambil memandangi sekelilingnya, mereka menyerap sari-sari kehidupan. Kepolosan serta Kemurnianya, telah menjadikannya memiliki kekuatan penuh untuk mengikat dan menyerap apapun yg dilewatinya, apa adanya.. Mereka akan membawa aneka cerita tentang apa yg dijumpainya selama perjalanan kembali menuju lautan keabadian.
Mereka terus berkelana mencari arus utama sungai sungai kehidupan untuk bisa menampung exsistensinya dan sambil mengalir, mereka menyebarkan pesan-pesan kehidupan kepada yg dilaluinya.
Saat dilereng bukit dan dipertemuan anak sungai, mereka biasa saling tegur sapa dengan suara gemericik penuh kepolosan, lalu saling bertukar cerita saat-saat menyenangkan menyusuri taman bermain hutan belantara dan lorong-lorong gelap dikedalaman bumi.
Sebagian dari mereka ada yg tersesat menjauh dari arus utama sungai kehidupan, dan mencoba membentuk anak sungai baru, atau bahkan terperangkap kedalam kubangan nista tempat para iblis bercengkerama.
Seperti halnya air yg merupakan sumber kehidupan, maka anak2 mu juga merupakan sumber kehidupanmu, yang akan meneruskan spirit hidupmu (bila kalian mengetahuinya), atau mereka akan membawa spirit kehidupan baru yg diperolehnya sendiri disepanjang perjalanan hidupnya.
Dan juga seperti halnya tanah terhadap air, kalian hanya berhak atas raga-nya, tapi bukan jiwa-nya. Karena jiwa-jiwa manusia itu sesungguhnya terlahir dari persetubuhan antara alam dan pengalaman hidupnya yang di sakralkan oleh kehendak sang penciptanya.
Oleh karenanya, perjalanan panjang tetesan air hujan (yg sepenuhnya masih murni itu), yg lalu melewati berbagai rintangan, hingga kembali menuju sumber air utama, yaitu samudra luas, yg telah dipenuhi oleh kotoran kehidupan, adalah laksana perjalanan panjang jiwa manusia dalam upayanya menyampaikan pesan-pesan kehidupan, hingga akhirnya kembali ke sang penciptanya.
Dari samudra keabadian itu, mereka akan dimurnikan lagi sebagai awan putih untuk selanjutnya mendapat tugas menyampaikan pesan-pesan baru pada realita kehidupan lain. Seperti itu lah kira2 irama perjalanan jiwa-jiwa manusia.
Oleh karenanya, bagi kalian yg memegang kertas putih yg penuh coretan, aku katakan bahwa jiwa kalian telah mendapatkan peran didalam kehidupan, dan bagi yg masih memegang kertas putih bersih (dan kosong), aku katakan sulit memaknai kehidupan kalian.
Oleh : Zainal Arifin
Anak-anak mu itu, sesungguhnya adalah tetesan air hujan dari awan keabadian, yg jatuh ke puncak bukit realita, sebagai titik awal perjalanan panjangnya, dalam membawa pesan-pesan kehidupan.
Kalian para orang tua adalah laksana tumpukan tanah pegunungan yg menerima tetesan air hujan itu, untuk memberi jalan hingga kedalaman yg mereka inginkan, hingga mereka menemukan anak sungai kehidupan yg akan mereka lalui sendiri.
Keinginan-2 kalian untuk membelokkan atau bahkan menghentikan perjalanan mereka, sama halnya dengan upaya angin untuk memindahkan awan ketempat lain. Hembusan yg salah , hanya akan menyebabkan badai yang mampu menghancurkan segalanya, dan hembusan lainnya, hanya akan memindahkannya ketempat lain, namun tidak akan pernah mampu menahan jatuhnya tetesan hujan itu.
Didalam tumpukan tanah pegunungan, tetesan itu akan meresap dan sambil memandangi sekelilingnya, mereka menyerap sari-sari kehidupan. Kepolosan serta Kemurnianya, telah menjadikannya memiliki kekuatan penuh untuk mengikat dan menyerap apapun yg dilewatinya, apa adanya.. Mereka akan membawa aneka cerita tentang apa yg dijumpainya selama perjalanan kembali menuju lautan keabadian.
Mereka terus berkelana mencari arus utama sungai sungai kehidupan untuk bisa menampung exsistensinya dan sambil mengalir, mereka menyebarkan pesan-pesan kehidupan kepada yg dilaluinya.
Saat dilereng bukit dan dipertemuan anak sungai, mereka biasa saling tegur sapa dengan suara gemericik penuh kepolosan, lalu saling bertukar cerita saat-saat menyenangkan menyusuri taman bermain hutan belantara dan lorong-lorong gelap dikedalaman bumi.
Sebagian dari mereka ada yg tersesat menjauh dari arus utama sungai kehidupan, dan mencoba membentuk anak sungai baru, atau bahkan terperangkap kedalam kubangan nista tempat para iblis bercengkerama.
Seperti halnya air yg merupakan sumber kehidupan, maka anak2 mu juga merupakan sumber kehidupanmu, yang akan meneruskan spirit hidupmu (bila kalian mengetahuinya), atau mereka akan membawa spirit kehidupan baru yg diperolehnya sendiri disepanjang perjalanan hidupnya.
Dan juga seperti halnya tanah terhadap air, kalian hanya berhak atas raga-nya, tapi bukan jiwa-nya. Karena jiwa-jiwa manusia itu sesungguhnya terlahir dari persetubuhan antara alam dan pengalaman hidupnya yang di sakralkan oleh kehendak sang penciptanya.
Oleh karenanya, perjalanan panjang tetesan air hujan (yg sepenuhnya masih murni itu), yg lalu melewati berbagai rintangan, hingga kembali menuju sumber air utama, yaitu samudra luas, yg telah dipenuhi oleh kotoran kehidupan, adalah laksana perjalanan panjang jiwa manusia dalam upayanya menyampaikan pesan-pesan kehidupan, hingga akhirnya kembali ke sang penciptanya.
Dari samudra keabadian itu, mereka akan dimurnikan lagi sebagai awan putih untuk selanjutnya mendapat tugas menyampaikan pesan-pesan baru pada realita kehidupan lain. Seperti itu lah kira2 irama perjalanan jiwa-jiwa manusia.
Oleh karenanya, bagi kalian yg memegang kertas putih yg penuh coretan, aku katakan bahwa jiwa kalian telah mendapatkan peran didalam kehidupan, dan bagi yg masih memegang kertas putih bersih (dan kosong), aku katakan sulit memaknai kehidupan kalian.
Oleh : Zainal Arifin
Monday, May 30, 2011
-K O R U P S I-
- K O R U P S I -
Seorang pengusaha kaya raya, yg menjalankan berbagai usaha dan cukup terpandang, suatu ketika mengadakan pesta keluarga dengan mengundang hampir semua pejabat setempat : eksekutif, yudikatif, legislatif dan termasuk petinggi keamanan.
Mereka semua tampak akrab dan bersenda gurau dengan sang pengusaha. Dan nampak sekali siapa pemimpin utama dari para pemimpin yg sedang berkumpul itu. Mereka juga sangat menaruh hormat dengan sang pengusaha.
Beberapa hari setelah pesta itu usai, mulailah para pejabat itu, masing2 mengatur rencana pertemuannya dengan sang pengusaha. "Bang, periode berikutnya harus tetap saya", pintanya. "Itu tergantung", jawab sang pengusaha.
Demikianlah pertemuan demi pertemuan dilakukan para pejabat itu dengan sang pengusaha untuk minta restu atas pencalonan yang berikutnya .
Dengan dukungan dana tak terbatas dari sang pengusaha, para pejabat itu mewujudkan keinginannya.
Akhirnya mereka terpilih, dan mengadakan pesta besar karena memimpin untuk periode berikutnya.
Tahun-tahun berikutnya, bisnis sang pengusaha semakin berkembang pesat dengan banyaknya proyek yg diperolehnya. Dia juga semakin giat mendanai pemilihan pemimpin.
Demikianlah korupsi berawal, yang berdampak buruk terhadap sendi-sendi perekonomian suatu bangsa, meruntuhkan daya saing perekonomian dan mempersulit pengentasan kemiskinan.
Oleh : Zainal Arifin
Seorang pengusaha kaya raya, yg menjalankan berbagai usaha dan cukup terpandang, suatu ketika mengadakan pesta keluarga dengan mengundang hampir semua pejabat setempat : eksekutif, yudikatif, legislatif dan termasuk petinggi keamanan.
Mereka semua tampak akrab dan bersenda gurau dengan sang pengusaha. Dan nampak sekali siapa pemimpin utama dari para pemimpin yg sedang berkumpul itu. Mereka juga sangat menaruh hormat dengan sang pengusaha.
Beberapa hari setelah pesta itu usai, mulailah para pejabat itu, masing2 mengatur rencana pertemuannya dengan sang pengusaha. "Bang, periode berikutnya harus tetap saya", pintanya. "Itu tergantung", jawab sang pengusaha.
Demikianlah pertemuan demi pertemuan dilakukan para pejabat itu dengan sang pengusaha untuk minta restu atas pencalonan yang berikutnya .
Dengan dukungan dana tak terbatas dari sang pengusaha, para pejabat itu mewujudkan keinginannya.
Akhirnya mereka terpilih, dan mengadakan pesta besar karena memimpin untuk periode berikutnya.
Tahun-tahun berikutnya, bisnis sang pengusaha semakin berkembang pesat dengan banyaknya proyek yg diperolehnya. Dia juga semakin giat mendanai pemilihan pemimpin.
Demikianlah korupsi berawal, yang berdampak buruk terhadap sendi-sendi perekonomian suatu bangsa, meruntuhkan daya saing perekonomian dan mempersulit pengentasan kemiskinan.
Oleh : Zainal Arifin
Saturday, May 21, 2011
-WAYANG KULIT-
Di tanah Jawa, pertunjukan wayang kulit merupakan hiburan yg selalu ramai dikunjungi penonton yg notabene adalah masyarakan desa sekitar, bahkan banyak juga yg dari desa seberang.
Didalam pewayangan, Sang Dalang adalah Figur Central yg mengendalikan emosi penonton dan seluruh wayangnya. Dia membagi peran wayang kedalam dua karakter utama, yaitu: karakter baik dan jahat. Ada pula karakter yg menyuarakan kebenaran seolah-olah pembawa pesan dari Tuhan.
Didalam setiap pertunjukan, penonton dibawa oleh Sang Dalang kedalam beragam suasana, sedih, gembira, marah, dll yg semua dimainkan dengan baik. Sang Dalang tidak akan memihak pada salah satu karakter wayang, tapi semua tokoh wayang mendapatkan perannya masing masing sesuai dengan jalan ceritanya.
Dengan diiringi alunan musik, suara nyanyian, tarian dan wejangan2 bijak, pertunjukan wayang yg baik, mampu menyampaikan pesan tertentu dengan tepat, kepada para penontonnya.
Bagaimanapun peran yang dimainkan para wayang itu, pada akhir cerita, Sang Dalang akan tetap merapikannya kembali dan menerima semua wayangnya tanpa membedakan perannya saat dipertunjukan. Termasuk tokoh wayang yg saat dimainkan sebagai tokoh jahat yg banyak dibenci penonton. Semuanya masuk kotak penyimpanan yg sama, untuk di simpan dan akan dimainkan kembali nanti di lain pertunjukan.
Karakter jahat tetap harus dimunculkan untuk menguatkan maksud pesan yg hendak disampaikan. Tanpanya, cerita jadi tak bermakna.
Justru para penontonlah yg biasanya membenci atau menyukai tokoh wayang yg dimainkan Sang Dalang hingga karakter tokoh tsb mampu berimplikasi pada prilaku nyata mereka sehari2. Sang Dalang sendiri, tetap mencintai seluruh wayangnya (dan penonton), karena baginya semua itu hanyalah media untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Biasanya para penonton akan membentuk kelompok-kelomok kecil untuk mendiskusikan akhir pertunjukan dan bahkan mereka rela baku hantam untuk mempertahankan keyakinan kelompoknya itu akan akhir cerita nanti. kelompok-kelompok kecil penonton itu bahkan rela bertaruh nyawa demi keyakinannya itu. sebuah pertunjukan yg luar biasa.
Dan sesungguhnya, substansi pertunjukan wayang kulit itu adalah deduksi kehidupan yg lebih luas.
Itulah sekilas tentang pertunjukan wayang ditanah jawa yg selalu menarik di tonton masyarakat desa sekitar.
Oleh : Zainal Arifin
Didalam pewayangan, Sang Dalang adalah Figur Central yg mengendalikan emosi penonton dan seluruh wayangnya. Dia membagi peran wayang kedalam dua karakter utama, yaitu: karakter baik dan jahat. Ada pula karakter yg menyuarakan kebenaran seolah-olah pembawa pesan dari Tuhan.
Didalam setiap pertunjukan, penonton dibawa oleh Sang Dalang kedalam beragam suasana, sedih, gembira, marah, dll yg semua dimainkan dengan baik. Sang Dalang tidak akan memihak pada salah satu karakter wayang, tapi semua tokoh wayang mendapatkan perannya masing masing sesuai dengan jalan ceritanya.
Dengan diiringi alunan musik, suara nyanyian, tarian dan wejangan2 bijak, pertunjukan wayang yg baik, mampu menyampaikan pesan tertentu dengan tepat, kepada para penontonnya.
Bagaimanapun peran yang dimainkan para wayang itu, pada akhir cerita, Sang Dalang akan tetap merapikannya kembali dan menerima semua wayangnya tanpa membedakan perannya saat dipertunjukan. Termasuk tokoh wayang yg saat dimainkan sebagai tokoh jahat yg banyak dibenci penonton. Semuanya masuk kotak penyimpanan yg sama, untuk di simpan dan akan dimainkan kembali nanti di lain pertunjukan.
Karakter jahat tetap harus dimunculkan untuk menguatkan maksud pesan yg hendak disampaikan. Tanpanya, cerita jadi tak bermakna.
Justru para penontonlah yg biasanya membenci atau menyukai tokoh wayang yg dimainkan Sang Dalang hingga karakter tokoh tsb mampu berimplikasi pada prilaku nyata mereka sehari2. Sang Dalang sendiri, tetap mencintai seluruh wayangnya (dan penonton), karena baginya semua itu hanyalah media untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Biasanya para penonton akan membentuk kelompok-kelomok kecil untuk mendiskusikan akhir pertunjukan dan bahkan mereka rela baku hantam untuk mempertahankan keyakinan kelompoknya itu akan akhir cerita nanti. kelompok-kelompok kecil penonton itu bahkan rela bertaruh nyawa demi keyakinannya itu. sebuah pertunjukan yg luar biasa.
Dan sesungguhnya, substansi pertunjukan wayang kulit itu adalah deduksi kehidupan yg lebih luas.
Itulah sekilas tentang pertunjukan wayang ditanah jawa yg selalu menarik di tonton masyarakat desa sekitar.
Oleh : Zainal Arifin
Wednesday, May 18, 2011
Dua anak dan Kertas Putih
Anak Pertama :
Kala itu tepat di tengah malam, disebuah rumah sakit termewah dan termahal, terdengar lengkingan kehidupan baru. Semua tersenyum bahagia menyaksikan calon generasi penerus laki laki telah lahir dengan sehat dan selamat.
Keesokan hari, diadakanlah upacara besar besaran dan sangat mewah sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran yg telah lama ditunggu ini.
Waktu terus berjalan, kedua orang tua yg kaya raya dan berbahagia tersebut memberikan semua hal yg terbaik kepada pertumbuhan buah hatinya. Makanan terbaik, sekolah terbaik dan semua pelajaran budi pekerti yg terbaik pula. Dan anak yg beruntung itu terus tumbuh menjadi anak baik seperti yg ada dalam pikiran orang orang pada umumnya. Semua ajaran yg diberikan orang tua dan lingkungannya, "memaksa" dia untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Hingga akhirnya sampai pada suatu titik kematian alami manusia, maka sang anak yg beruntung itu pun menemui ajalnya.
Dengan catatan baik menurut pandangan semua orang dan dibenarkan oleh semua kitab suci, pada seluruh kehidupannya, maka sudah seharusnya anak yg beruntung di dunia itu, beruntung pula di kehidupan setelah kematian. Ia harus masuk surga Sang Pencipta. Yg demikianlah yg diajarkan disemua kitab suci.
Anak Kedua :
Pada saat hampir bersamaan dengan anak pertama, telah lahir pula anak laki laki manusia lain dikolong jembatan, gelap gulita, penuh bau busuk dan tanpa pertolongan siapapun.
Setelah semalaman sang ibu meregang nyawa, maka keesokan harinya setelah siuman dari pingsan suci, tak sebutir nasi pun ada disampingnya, dan tak setetes asi pun melewati kerongkongan sang bayi malang. Lengkingan tak berdosa dan bau anyir darah itu telah membangunkan kecoa dan tikus got untuk sarapan pagi istimewa kala itu.
Setelah peristiwa memilukan itu, hari2 berikutnya mereka isi dengan kehidupan yg lebih memilukan lagi.
Anak itu tumbuh dengan makanan sisa ditempat sampah, pendidikan mencuri, dan budi pekerti premanisme. Semua yg diajarkan didalam semua kitab suci tak satupun dia lakukan, dan semua yg di larang menjadi kebiasaan yg dilakukan sehari hari.
Akhirnya anak itupun kembali kepangkuan sang penciptanya, setelah menjalani peran diseluruh kehidupannya yg memilukan itu.
Dari seluruh catatan kehidupannya, yg hampir semua melanggar larangan diseluruh kitab suci agama apapun, maka jelaslah menurut semua orang dan ajaran kitab suci, anak malang tersebut seharusnya masuk neraka sang pencipta. Lengkaplah penderitaan anak yg tidak minta dilahirkan itu, baik di dunia maupun di akherat.
Kertas Putih :
Anak anak itu, bagaimanapun keadaan orang tua mereka, adalah laksana kertas putih bersih tanpa noda. Sehingga apapun yg tercoret di kertas putih itu, bukanlah salah kertas putih, tapi sang pencoret. Siapakah Sang pencoret itu?
Selanjutnya adilkah anak kedua masuk neraka? Bagaimana kah dia bisa masuk surga sementara dari pertama membuka mata hingga menutup mata untuk kembali ke Tuhannya, tidak tahu mana kebaikan dan mana kejahatan. Kertas putih itu telah dicoret oleh Pencoret tanpa dia kuasa untuk menolaknya.
Kalau boleh memilih, anak kedua akan meminta dilahirkan dilingkungan seperti anak pertama. Sayang sekali, semua anak anak itu hanya menjalankan peran Sang Pencoret, tanpa bisa memilih.
Oleh: zainal arifin
Kala itu tepat di tengah malam, disebuah rumah sakit termewah dan termahal, terdengar lengkingan kehidupan baru. Semua tersenyum bahagia menyaksikan calon generasi penerus laki laki telah lahir dengan sehat dan selamat.
Keesokan hari, diadakanlah upacara besar besaran dan sangat mewah sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran yg telah lama ditunggu ini.
Waktu terus berjalan, kedua orang tua yg kaya raya dan berbahagia tersebut memberikan semua hal yg terbaik kepada pertumbuhan buah hatinya. Makanan terbaik, sekolah terbaik dan semua pelajaran budi pekerti yg terbaik pula. Dan anak yg beruntung itu terus tumbuh menjadi anak baik seperti yg ada dalam pikiran orang orang pada umumnya. Semua ajaran yg diberikan orang tua dan lingkungannya, "memaksa" dia untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Hingga akhirnya sampai pada suatu titik kematian alami manusia, maka sang anak yg beruntung itu pun menemui ajalnya.
Dengan catatan baik menurut pandangan semua orang dan dibenarkan oleh semua kitab suci, pada seluruh kehidupannya, maka sudah seharusnya anak yg beruntung di dunia itu, beruntung pula di kehidupan setelah kematian. Ia harus masuk surga Sang Pencipta. Yg demikianlah yg diajarkan disemua kitab suci.
Anak Kedua :
Pada saat hampir bersamaan dengan anak pertama, telah lahir pula anak laki laki manusia lain dikolong jembatan, gelap gulita, penuh bau busuk dan tanpa pertolongan siapapun.
Setelah semalaman sang ibu meregang nyawa, maka keesokan harinya setelah siuman dari pingsan suci, tak sebutir nasi pun ada disampingnya, dan tak setetes asi pun melewati kerongkongan sang bayi malang. Lengkingan tak berdosa dan bau anyir darah itu telah membangunkan kecoa dan tikus got untuk sarapan pagi istimewa kala itu.
Setelah peristiwa memilukan itu, hari2 berikutnya mereka isi dengan kehidupan yg lebih memilukan lagi.
Anak itu tumbuh dengan makanan sisa ditempat sampah, pendidikan mencuri, dan budi pekerti premanisme. Semua yg diajarkan didalam semua kitab suci tak satupun dia lakukan, dan semua yg di larang menjadi kebiasaan yg dilakukan sehari hari.
Akhirnya anak itupun kembali kepangkuan sang penciptanya, setelah menjalani peran diseluruh kehidupannya yg memilukan itu.
Dari seluruh catatan kehidupannya, yg hampir semua melanggar larangan diseluruh kitab suci agama apapun, maka jelaslah menurut semua orang dan ajaran kitab suci, anak malang tersebut seharusnya masuk neraka sang pencipta. Lengkaplah penderitaan anak yg tidak minta dilahirkan itu, baik di dunia maupun di akherat.
Kertas Putih :
Anak anak itu, bagaimanapun keadaan orang tua mereka, adalah laksana kertas putih bersih tanpa noda. Sehingga apapun yg tercoret di kertas putih itu, bukanlah salah kertas putih, tapi sang pencoret. Siapakah Sang pencoret itu?
Selanjutnya adilkah anak kedua masuk neraka? Bagaimana kah dia bisa masuk surga sementara dari pertama membuka mata hingga menutup mata untuk kembali ke Tuhannya, tidak tahu mana kebaikan dan mana kejahatan. Kertas putih itu telah dicoret oleh Pencoret tanpa dia kuasa untuk menolaknya.
Kalau boleh memilih, anak kedua akan meminta dilahirkan dilingkungan seperti anak pertama. Sayang sekali, semua anak anak itu hanya menjalankan peran Sang Pencoret, tanpa bisa memilih.
Oleh: zainal arifin
Subscribe to:
Comments (Atom)