Anak Pertama :
Kala itu tepat di tengah malam, disebuah rumah sakit termewah dan termahal, terdengar lengkingan kehidupan baru. Semua tersenyum bahagia menyaksikan calon generasi penerus laki laki telah lahir dengan sehat dan selamat.
Keesokan hari, diadakanlah upacara besar besaran dan sangat mewah sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran yg telah lama ditunggu ini.
Waktu terus berjalan, kedua orang tua yg kaya raya dan berbahagia tersebut memberikan semua hal yg terbaik kepada pertumbuhan buah hatinya. Makanan terbaik, sekolah terbaik dan semua pelajaran budi pekerti yg terbaik pula. Dan anak yg beruntung itu terus tumbuh menjadi anak baik seperti yg ada dalam pikiran orang orang pada umumnya. Semua ajaran yg diberikan orang tua dan lingkungannya, "memaksa" dia untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Hingga akhirnya sampai pada suatu titik kematian alami manusia, maka sang anak yg beruntung itu pun menemui ajalnya.
Dengan catatan baik menurut pandangan semua orang dan dibenarkan oleh semua kitab suci, pada seluruh kehidupannya, maka sudah seharusnya anak yg beruntung di dunia itu, beruntung pula di kehidupan setelah kematian. Ia harus masuk surga Sang Pencipta. Yg demikianlah yg diajarkan disemua kitab suci.
Anak Kedua :
Pada saat hampir bersamaan dengan anak pertama, telah lahir pula anak laki laki manusia lain dikolong jembatan, gelap gulita, penuh bau busuk dan tanpa pertolongan siapapun.
Setelah semalaman sang ibu meregang nyawa, maka keesokan harinya setelah siuman dari pingsan suci, tak sebutir nasi pun ada disampingnya, dan tak setetes asi pun melewati kerongkongan sang bayi malang. Lengkingan tak berdosa dan bau anyir darah itu telah membangunkan kecoa dan tikus got untuk sarapan pagi istimewa kala itu.
Setelah peristiwa memilukan itu, hari2 berikutnya mereka isi dengan kehidupan yg lebih memilukan lagi.
Anak itu tumbuh dengan makanan sisa ditempat sampah, pendidikan mencuri, dan budi pekerti premanisme. Semua yg diajarkan didalam semua kitab suci tak satupun dia lakukan, dan semua yg di larang menjadi kebiasaan yg dilakukan sehari hari.
Akhirnya anak itupun kembali kepangkuan sang penciptanya, setelah menjalani peran diseluruh kehidupannya yg memilukan itu.
Dari seluruh catatan kehidupannya, yg hampir semua melanggar larangan diseluruh kitab suci agama apapun, maka jelaslah menurut semua orang dan ajaran kitab suci, anak malang tersebut seharusnya masuk neraka sang pencipta. Lengkaplah penderitaan anak yg tidak minta dilahirkan itu, baik di dunia maupun di akherat.
Kertas Putih :
Anak anak itu, bagaimanapun keadaan orang tua mereka, adalah laksana kertas putih bersih tanpa noda. Sehingga apapun yg tercoret di kertas putih itu, bukanlah salah kertas putih, tapi sang pencoret. Siapakah Sang pencoret itu?
Selanjutnya adilkah anak kedua masuk neraka? Bagaimana kah dia bisa masuk surga sementara dari pertama membuka mata hingga menutup mata untuk kembali ke Tuhannya, tidak tahu mana kebaikan dan mana kejahatan. Kertas putih itu telah dicoret oleh Pencoret tanpa dia kuasa untuk menolaknya.
Kalau boleh memilih, anak kedua akan meminta dilahirkan dilingkungan seperti anak pertama. Sayang sekali, semua anak anak itu hanya menjalankan peran Sang Pencoret, tanpa bisa memilih.
Oleh: zainal arifin
No comments:
Post a Comment