- ANAK-ANAK MU -
Anak-anak mu itu, sesungguhnya adalah tetesan air hujan dari awan keabadian, yg jatuh ke puncak bukit realita, sebagai titik awal perjalanan panjangnya, dalam membawa pesan-pesan kehidupan.
Kalian para orang tua adalah laksana tumpukan tanah pegunungan yg menerima tetesan air hujan itu, untuk memberi jalan hingga kedalaman yg mereka inginkan, hingga mereka menemukan anak sungai kehidupan yg akan mereka lalui sendiri.
Keinginan-2 kalian untuk membelokkan atau bahkan menghentikan perjalanan mereka, sama halnya dengan upaya angin untuk memindahkan awan ketempat lain. Hembusan yg salah , hanya akan menyebabkan badai yang mampu menghancurkan segalanya, dan hembusan lainnya, hanya akan memindahkannya ketempat lain, namun tidak akan pernah mampu menahan jatuhnya tetesan hujan itu.
Didalam tumpukan tanah pegunungan, tetesan itu akan meresap dan sambil memandangi sekelilingnya, mereka menyerap sari-sari kehidupan. Kepolosan serta Kemurnianya, telah menjadikannya memiliki kekuatan penuh untuk mengikat dan menyerap apapun yg dilewatinya, apa adanya.. Mereka akan membawa aneka cerita tentang apa yg dijumpainya selama perjalanan kembali menuju lautan keabadian.
Mereka terus berkelana mencari arus utama sungai sungai kehidupan untuk bisa menampung exsistensinya dan sambil mengalir, mereka menyebarkan pesan-pesan kehidupan kepada yg dilaluinya.
Saat dilereng bukit dan dipertemuan anak sungai, mereka biasa saling tegur sapa dengan suara gemericik penuh kepolosan, lalu saling bertukar cerita saat-saat menyenangkan menyusuri taman bermain hutan belantara dan lorong-lorong gelap dikedalaman bumi.
Sebagian dari mereka ada yg tersesat menjauh dari arus utama sungai kehidupan, dan mencoba membentuk anak sungai baru, atau bahkan terperangkap kedalam kubangan nista tempat para iblis bercengkerama.
Seperti halnya air yg merupakan sumber kehidupan, maka anak2 mu juga merupakan sumber kehidupanmu, yang akan meneruskan spirit hidupmu (bila kalian mengetahuinya), atau mereka akan membawa spirit kehidupan baru yg diperolehnya sendiri disepanjang perjalanan hidupnya.
Dan juga seperti halnya tanah terhadap air, kalian hanya berhak atas raga-nya, tapi bukan jiwa-nya. Karena jiwa-jiwa manusia itu sesungguhnya terlahir dari persetubuhan antara alam dan pengalaman hidupnya yang di sakralkan oleh kehendak sang penciptanya.
Oleh karenanya, perjalanan panjang tetesan air hujan (yg sepenuhnya masih murni itu), yg lalu melewati berbagai rintangan, hingga kembali menuju sumber air utama, yaitu samudra luas, yg telah dipenuhi oleh kotoran kehidupan, adalah laksana perjalanan panjang jiwa manusia dalam upayanya menyampaikan pesan-pesan kehidupan, hingga akhirnya kembali ke sang penciptanya.
Dari samudra keabadian itu, mereka akan dimurnikan lagi sebagai awan putih untuk selanjutnya mendapat tugas menyampaikan pesan-pesan baru pada realita kehidupan lain. Seperti itu lah kira2 irama perjalanan jiwa-jiwa manusia.
Oleh karenanya, bagi kalian yg memegang kertas putih yg penuh coretan, aku katakan bahwa jiwa kalian telah mendapatkan peran didalam kehidupan, dan bagi yg masih memegang kertas putih bersih (dan kosong), aku katakan sulit memaknai kehidupan kalian.
Oleh : Zainal Arifin
No comments:
Post a Comment