- K O R U P S I -
Seorang pengusaha kaya raya, yg menjalankan berbagai usaha dan cukup terpandang, suatu ketika mengadakan pesta keluarga dengan mengundang hampir semua pejabat setempat : eksekutif, yudikatif, legislatif dan termasuk petinggi keamanan.
Mereka semua tampak akrab dan bersenda gurau dengan sang pengusaha. Dan nampak sekali siapa pemimpin utama dari para pemimpin yg sedang berkumpul itu. Mereka juga sangat menaruh hormat dengan sang pengusaha.
Beberapa hari setelah pesta itu usai, mulailah para pejabat itu, masing2 mengatur rencana pertemuannya dengan sang pengusaha. "Bang, periode berikutnya harus tetap saya", pintanya. "Itu tergantung", jawab sang pengusaha.
Demikianlah pertemuan demi pertemuan dilakukan para pejabat itu dengan sang pengusaha untuk minta restu atas pencalonan yang berikutnya .
Dengan dukungan dana tak terbatas dari sang pengusaha, para pejabat itu mewujudkan keinginannya.
Akhirnya mereka terpilih, dan mengadakan pesta besar karena memimpin untuk periode berikutnya.
Tahun-tahun berikutnya, bisnis sang pengusaha semakin berkembang pesat dengan banyaknya proyek yg diperolehnya. Dia juga semakin giat mendanai pemilihan pemimpin.
Demikianlah korupsi berawal, yang berdampak buruk terhadap sendi-sendi perekonomian suatu bangsa, meruntuhkan daya saing perekonomian dan mempersulit pengentasan kemiskinan.
Oleh : Zainal Arifin
Monday, May 30, 2011
Saturday, May 21, 2011
-WAYANG KULIT-
Di tanah Jawa, pertunjukan wayang kulit merupakan hiburan yg selalu ramai dikunjungi penonton yg notabene adalah masyarakan desa sekitar, bahkan banyak juga yg dari desa seberang.
Didalam pewayangan, Sang Dalang adalah Figur Central yg mengendalikan emosi penonton dan seluruh wayangnya. Dia membagi peran wayang kedalam dua karakter utama, yaitu: karakter baik dan jahat. Ada pula karakter yg menyuarakan kebenaran seolah-olah pembawa pesan dari Tuhan.
Didalam setiap pertunjukan, penonton dibawa oleh Sang Dalang kedalam beragam suasana, sedih, gembira, marah, dll yg semua dimainkan dengan baik. Sang Dalang tidak akan memihak pada salah satu karakter wayang, tapi semua tokoh wayang mendapatkan perannya masing masing sesuai dengan jalan ceritanya.
Dengan diiringi alunan musik, suara nyanyian, tarian dan wejangan2 bijak, pertunjukan wayang yg baik, mampu menyampaikan pesan tertentu dengan tepat, kepada para penontonnya.
Bagaimanapun peran yang dimainkan para wayang itu, pada akhir cerita, Sang Dalang akan tetap merapikannya kembali dan menerima semua wayangnya tanpa membedakan perannya saat dipertunjukan. Termasuk tokoh wayang yg saat dimainkan sebagai tokoh jahat yg banyak dibenci penonton. Semuanya masuk kotak penyimpanan yg sama, untuk di simpan dan akan dimainkan kembali nanti di lain pertunjukan.
Karakter jahat tetap harus dimunculkan untuk menguatkan maksud pesan yg hendak disampaikan. Tanpanya, cerita jadi tak bermakna.
Justru para penontonlah yg biasanya membenci atau menyukai tokoh wayang yg dimainkan Sang Dalang hingga karakter tokoh tsb mampu berimplikasi pada prilaku nyata mereka sehari2. Sang Dalang sendiri, tetap mencintai seluruh wayangnya (dan penonton), karena baginya semua itu hanyalah media untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Biasanya para penonton akan membentuk kelompok-kelomok kecil untuk mendiskusikan akhir pertunjukan dan bahkan mereka rela baku hantam untuk mempertahankan keyakinan kelompoknya itu akan akhir cerita nanti. kelompok-kelompok kecil penonton itu bahkan rela bertaruh nyawa demi keyakinannya itu. sebuah pertunjukan yg luar biasa.
Dan sesungguhnya, substansi pertunjukan wayang kulit itu adalah deduksi kehidupan yg lebih luas.
Itulah sekilas tentang pertunjukan wayang ditanah jawa yg selalu menarik di tonton masyarakat desa sekitar.
Oleh : Zainal Arifin
Didalam pewayangan, Sang Dalang adalah Figur Central yg mengendalikan emosi penonton dan seluruh wayangnya. Dia membagi peran wayang kedalam dua karakter utama, yaitu: karakter baik dan jahat. Ada pula karakter yg menyuarakan kebenaran seolah-olah pembawa pesan dari Tuhan.
Didalam setiap pertunjukan, penonton dibawa oleh Sang Dalang kedalam beragam suasana, sedih, gembira, marah, dll yg semua dimainkan dengan baik. Sang Dalang tidak akan memihak pada salah satu karakter wayang, tapi semua tokoh wayang mendapatkan perannya masing masing sesuai dengan jalan ceritanya.
Dengan diiringi alunan musik, suara nyanyian, tarian dan wejangan2 bijak, pertunjukan wayang yg baik, mampu menyampaikan pesan tertentu dengan tepat, kepada para penontonnya.
Bagaimanapun peran yang dimainkan para wayang itu, pada akhir cerita, Sang Dalang akan tetap merapikannya kembali dan menerima semua wayangnya tanpa membedakan perannya saat dipertunjukan. Termasuk tokoh wayang yg saat dimainkan sebagai tokoh jahat yg banyak dibenci penonton. Semuanya masuk kotak penyimpanan yg sama, untuk di simpan dan akan dimainkan kembali nanti di lain pertunjukan.
Karakter jahat tetap harus dimunculkan untuk menguatkan maksud pesan yg hendak disampaikan. Tanpanya, cerita jadi tak bermakna.
Justru para penontonlah yg biasanya membenci atau menyukai tokoh wayang yg dimainkan Sang Dalang hingga karakter tokoh tsb mampu berimplikasi pada prilaku nyata mereka sehari2. Sang Dalang sendiri, tetap mencintai seluruh wayangnya (dan penonton), karena baginya semua itu hanyalah media untuk menyampaikan pesan kehidupan.
Biasanya para penonton akan membentuk kelompok-kelomok kecil untuk mendiskusikan akhir pertunjukan dan bahkan mereka rela baku hantam untuk mempertahankan keyakinan kelompoknya itu akan akhir cerita nanti. kelompok-kelompok kecil penonton itu bahkan rela bertaruh nyawa demi keyakinannya itu. sebuah pertunjukan yg luar biasa.
Dan sesungguhnya, substansi pertunjukan wayang kulit itu adalah deduksi kehidupan yg lebih luas.
Itulah sekilas tentang pertunjukan wayang ditanah jawa yg selalu menarik di tonton masyarakat desa sekitar.
Oleh : Zainal Arifin
Wednesday, May 18, 2011
Dua anak dan Kertas Putih
Anak Pertama :
Kala itu tepat di tengah malam, disebuah rumah sakit termewah dan termahal, terdengar lengkingan kehidupan baru. Semua tersenyum bahagia menyaksikan calon generasi penerus laki laki telah lahir dengan sehat dan selamat.
Keesokan hari, diadakanlah upacara besar besaran dan sangat mewah sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran yg telah lama ditunggu ini.
Waktu terus berjalan, kedua orang tua yg kaya raya dan berbahagia tersebut memberikan semua hal yg terbaik kepada pertumbuhan buah hatinya. Makanan terbaik, sekolah terbaik dan semua pelajaran budi pekerti yg terbaik pula. Dan anak yg beruntung itu terus tumbuh menjadi anak baik seperti yg ada dalam pikiran orang orang pada umumnya. Semua ajaran yg diberikan orang tua dan lingkungannya, "memaksa" dia untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Hingga akhirnya sampai pada suatu titik kematian alami manusia, maka sang anak yg beruntung itu pun menemui ajalnya.
Dengan catatan baik menurut pandangan semua orang dan dibenarkan oleh semua kitab suci, pada seluruh kehidupannya, maka sudah seharusnya anak yg beruntung di dunia itu, beruntung pula di kehidupan setelah kematian. Ia harus masuk surga Sang Pencipta. Yg demikianlah yg diajarkan disemua kitab suci.
Anak Kedua :
Pada saat hampir bersamaan dengan anak pertama, telah lahir pula anak laki laki manusia lain dikolong jembatan, gelap gulita, penuh bau busuk dan tanpa pertolongan siapapun.
Setelah semalaman sang ibu meregang nyawa, maka keesokan harinya setelah siuman dari pingsan suci, tak sebutir nasi pun ada disampingnya, dan tak setetes asi pun melewati kerongkongan sang bayi malang. Lengkingan tak berdosa dan bau anyir darah itu telah membangunkan kecoa dan tikus got untuk sarapan pagi istimewa kala itu.
Setelah peristiwa memilukan itu, hari2 berikutnya mereka isi dengan kehidupan yg lebih memilukan lagi.
Anak itu tumbuh dengan makanan sisa ditempat sampah, pendidikan mencuri, dan budi pekerti premanisme. Semua yg diajarkan didalam semua kitab suci tak satupun dia lakukan, dan semua yg di larang menjadi kebiasaan yg dilakukan sehari hari.
Akhirnya anak itupun kembali kepangkuan sang penciptanya, setelah menjalani peran diseluruh kehidupannya yg memilukan itu.
Dari seluruh catatan kehidupannya, yg hampir semua melanggar larangan diseluruh kitab suci agama apapun, maka jelaslah menurut semua orang dan ajaran kitab suci, anak malang tersebut seharusnya masuk neraka sang pencipta. Lengkaplah penderitaan anak yg tidak minta dilahirkan itu, baik di dunia maupun di akherat.
Kertas Putih :
Anak anak itu, bagaimanapun keadaan orang tua mereka, adalah laksana kertas putih bersih tanpa noda. Sehingga apapun yg tercoret di kertas putih itu, bukanlah salah kertas putih, tapi sang pencoret. Siapakah Sang pencoret itu?
Selanjutnya adilkah anak kedua masuk neraka? Bagaimana kah dia bisa masuk surga sementara dari pertama membuka mata hingga menutup mata untuk kembali ke Tuhannya, tidak tahu mana kebaikan dan mana kejahatan. Kertas putih itu telah dicoret oleh Pencoret tanpa dia kuasa untuk menolaknya.
Kalau boleh memilih, anak kedua akan meminta dilahirkan dilingkungan seperti anak pertama. Sayang sekali, semua anak anak itu hanya menjalankan peran Sang Pencoret, tanpa bisa memilih.
Oleh: zainal arifin
Kala itu tepat di tengah malam, disebuah rumah sakit termewah dan termahal, terdengar lengkingan kehidupan baru. Semua tersenyum bahagia menyaksikan calon generasi penerus laki laki telah lahir dengan sehat dan selamat.
Keesokan hari, diadakanlah upacara besar besaran dan sangat mewah sebagai ucapan rasa syukur atas kelahiran yg telah lama ditunggu ini.
Waktu terus berjalan, kedua orang tua yg kaya raya dan berbahagia tersebut memberikan semua hal yg terbaik kepada pertumbuhan buah hatinya. Makanan terbaik, sekolah terbaik dan semua pelajaran budi pekerti yg terbaik pula. Dan anak yg beruntung itu terus tumbuh menjadi anak baik seperti yg ada dalam pikiran orang orang pada umumnya. Semua ajaran yg diberikan orang tua dan lingkungannya, "memaksa" dia untuk berbuat baik hingga akhir hayat.
Hingga akhirnya sampai pada suatu titik kematian alami manusia, maka sang anak yg beruntung itu pun menemui ajalnya.
Dengan catatan baik menurut pandangan semua orang dan dibenarkan oleh semua kitab suci, pada seluruh kehidupannya, maka sudah seharusnya anak yg beruntung di dunia itu, beruntung pula di kehidupan setelah kematian. Ia harus masuk surga Sang Pencipta. Yg demikianlah yg diajarkan disemua kitab suci.
Anak Kedua :
Pada saat hampir bersamaan dengan anak pertama, telah lahir pula anak laki laki manusia lain dikolong jembatan, gelap gulita, penuh bau busuk dan tanpa pertolongan siapapun.
Setelah semalaman sang ibu meregang nyawa, maka keesokan harinya setelah siuman dari pingsan suci, tak sebutir nasi pun ada disampingnya, dan tak setetes asi pun melewati kerongkongan sang bayi malang. Lengkingan tak berdosa dan bau anyir darah itu telah membangunkan kecoa dan tikus got untuk sarapan pagi istimewa kala itu.
Setelah peristiwa memilukan itu, hari2 berikutnya mereka isi dengan kehidupan yg lebih memilukan lagi.
Anak itu tumbuh dengan makanan sisa ditempat sampah, pendidikan mencuri, dan budi pekerti premanisme. Semua yg diajarkan didalam semua kitab suci tak satupun dia lakukan, dan semua yg di larang menjadi kebiasaan yg dilakukan sehari hari.
Akhirnya anak itupun kembali kepangkuan sang penciptanya, setelah menjalani peran diseluruh kehidupannya yg memilukan itu.
Dari seluruh catatan kehidupannya, yg hampir semua melanggar larangan diseluruh kitab suci agama apapun, maka jelaslah menurut semua orang dan ajaran kitab suci, anak malang tersebut seharusnya masuk neraka sang pencipta. Lengkaplah penderitaan anak yg tidak minta dilahirkan itu, baik di dunia maupun di akherat.
Kertas Putih :
Anak anak itu, bagaimanapun keadaan orang tua mereka, adalah laksana kertas putih bersih tanpa noda. Sehingga apapun yg tercoret di kertas putih itu, bukanlah salah kertas putih, tapi sang pencoret. Siapakah Sang pencoret itu?
Selanjutnya adilkah anak kedua masuk neraka? Bagaimana kah dia bisa masuk surga sementara dari pertama membuka mata hingga menutup mata untuk kembali ke Tuhannya, tidak tahu mana kebaikan dan mana kejahatan. Kertas putih itu telah dicoret oleh Pencoret tanpa dia kuasa untuk menolaknya.
Kalau boleh memilih, anak kedua akan meminta dilahirkan dilingkungan seperti anak pertama. Sayang sekali, semua anak anak itu hanya menjalankan peran Sang Pencoret, tanpa bisa memilih.
Oleh: zainal arifin
Subscribe to:
Comments (Atom)