Aku geli dengan para badut dan tingkah laku mereka
Saat malam menjelang tidur, dia sering menggangguku dengan ocehannya, yg membuatku tersenyum dan tertawa sendiri, bahkan didalam mimpiku mereka masih sering melucu. Katanya ," Dirimu bukan sejati, tapi sang Badut yg berpura-pura". Lagi-2 aku tertawa mendengarnya.
Lalu dipagi hari saat aku menikmati sebatang rokok, dia duduk disebelahku, sambil terus memandangiku dan bertingkah lucu. Saat aku coba mengusirnya, dia malah tertawa-tawa dan berkata,"Mereka yg mengganggap dirinya sejati, adalah Badut yg lebih menggelikan lagi".
Para Badut ini memang menampakkan diri mereka kedalam sosok dengan pakaian dan kedudukan yg beraneka ragam. Ada yg mengenakan pakaian jalanan namun dgn tingkat kebadutan yg mumpuni, ada yg bak raja namun ocehannya membosankan.
Di tepi jalan saat aku menuju kantor, kulihat mereka meminta-2 dengan membawa bayi sewaan dan berjalan sambil seolah-2 kaki mereka sedang terluka. Mereka ini adalah kelompok lalat yg cukup puas dengan gemerincing logam.
Lalu kelompok para sopir angkutan umum yg saling salip mengejar penumpang, tapi ketika di pangkalan mereka merokok dan minum kopi bersama sambil tertawa riang.
Di institusi pemerintahan aku menemukan mereka disemua lapisan, yg sering makan minum gratis, asal mereka mau ikuti perintah sang culas.
Kemudian si cantik dan si tampan yg mendua dengan rayuan maut yg memabukkan, untuk mengejar tujuan semu.
Aku juga menemukannya di setiap perkumpulan, baik kecil maupun besar yg berebut simpati untuk mendapatkan dukungan atas kekuasaan menjadi Raja Badut. Mereka menjual berbagai macam bualan yg menggelikan, dengan tampilan layaknya dewa penolong yg sedang membagikan bingkisan berpesan, sambil mencoba menenun angin membuat pakaiannya.
Pendek kata, badut-2 ini ada dimana-2, terkadang tampak welas asih, terkadang penuh bualan, keangkuhan dan tidak sedikit yg seperti pengkotbah di mimbar suci.
Para badut ini adalah sisi lain dari kehidupan, yg mampu mewarnai, menyeimbangkan mental dan terkadang malah mendorong perkembangan yg lebih baik. Tentu saja dengan sudut pandang yg tepat dan benar.
Oleh: Zainal arifin
No comments:
Post a Comment